Beberapa tahun yang lalu (sekitar 2013) saya mendengar sebuah cerita dari seorang teman senior di bidang fotografi, yang akhirnya membuat saya berhenti melakukan editing yang berlebihan dan lebih berusaha memperbaiki diri dalam teknis pengambilan gambar. Saya mengerti bahwa foto yang saya ambil mungkin tidak akan menjadi sempurna tanpa sedikit memperbaikinya – atau mungkin merusaknya. Saya membagikan cerita ini dengan tujuan agar semua orang bisa memahami alasan saya memotret dengan seminimal mungkin memanipulasi foto yang saya hasilkan. VINCI.ID adalah orang-orang yang memiliki kesepahaman dalam menilai cerita ini,

Saat itu masih pagi, seorang teman fotografer yang saya kenal di Jakarta, namanya Dennis, pernah menerima tawaran untuk memotret sepasang suami-istri, berparas mapan, usianya mungkin sekitar 50-an. Mereka berdua mendatangi studio tempat Dennis bekerja dan meminta photo session dengan durasi setengah shift (4 jam) sebagai kado pernikahan perak (25 tahun) mereka. Permintaan yang mudah, hanya perlu memotret dalam studio dengan tiga kostum dan bermacam aksesoris, kemudian edit dan cetak menjadi album. Dennis pun bersedia mengabulkan permintaan mereka. Sesi pemotretan berjalan dengan baik, pasangan itu pun terlihat sangat harmonis dan tidak canggung di depan kamera. Usai pemotretan datanglah satu minggu masa tunggu, yaitu proses edit dan cetak. Dennis beranggapan bahwa setiap kado harus bersifat spesial, “nggak boleh mengecewakan!” katanya. Yang dilakukannya saat itu adalah memperbaiki setiap foto, seperti yang Dia selalu berikan kepada klien-kliennya yang menginginkan foto yang sempurna, flawless memory. Seminggu berlalu, seluruh foto benar-benar tampak sempurna, dan album pun dikirim ke alamat yang pernah pasangan itu berikan. Sebenarnya tidak jauh, karena mereka berada di Tangerang. Tiga hari setelah album itu dikirim, Teman saya mendapati bahwa album itu dikembalikan ke studio dalam bentuk paket, bersama sebuah surat.

 

Yth. Dennis

 Dear Ko Dennis, terima kasih telah menyelesaikan album ini tepat waktu, kami sudah melihat semua foto yang ada di dalam album, dan kami berdua bahagia sekaligus sedih melihat isinya. Kami kembalikan album ini dengan harapan bahwa Koko dapat memperbaiki kembali foto-foto kami dan mencetak ulang album kami beserta dengan kenangan-kenangan kami.

 Sincerely,

Liem.

 

Setelah beberapa kali membaca surat itu dan merasa tidak paham, teman saya pun menelepon sang suami lewat nomor yang Ia berikan sebelum photo session. Jawaban dari beliau benar-benar menusuk hati kami sebagai fotografer,

“Begini, mohon maaf nih Ko, saya tidak bisa menerima album itu karena saya ngerasa yang ada dalam foto itu bukan kami berdua. Wanita itu bukan istri saya. Dia terlalu sempurna. Orang yang saya cintai, yang 25 tahun hidup sama saya, itu nggak seperti itu. Dia punya stretchmark banyak, karena melahirkan anak-anak. Dia juga punya bekas luka di sekitar lutut, saya ingat itu dia luka gara-gara main basket sama Jun. Di dekat siku tangannya ada codet, karena dulu kita pernah lari-larian di Belitung terus dia kepeleset dekat rawa. Pipi kirinya juga ada bekas luka kena minyak goreng, dia belajar masak waktu kita baru menikah. Rambutnya juga nggak sebagus yang di foto. Saya tau dia punya pitak di kanan, itu dulu pernah kecelakaan waktu ngawasin renovasi rumah, sampai-sampai harus saya bawa ke Rumah Sakit. Saya nggak mau semua kenangan itu hilang, Ko. Saya cinta sama dia bukan karena dia sempurna. Saya mencintai dia dan menerima dia sepenuhnya. Saya mau semua cerita-cerita kami selama 25 tahun ini bisa dituangkan dalam album, jadi kado dari saya, buat diceritakan ke anak-cucu saya nanti. Saya mohon Koko bisa kembalikan semuanya ke dalam foto, biarkan kenangan kami tetap ada disana, biar kami bisa ingat alasan kami memilih satu sama lain untuk bersama sampai maut memisahkan.”

Teman saya pun akhirnya menyanggupi untuk mengembalikan seluruh foto mereka ke original state dan mencetak kembali album tersebut.

Belajar dari cerita tersebut, kami pun jadi ingin menanyakan kepada Anda:

“Apakah Anda mencintai pasangan Anda karena kesempurnaannya, atau segala baik dan buruknya?”